Recent Articles

Sabtu, 05 Oktober 2013

Anechoic Chamber, Laboratorium yang Mampu Menyerap Suara

Sabtu, 05 Oktober 2013 - 0 Comments

Anechoic Chamber milik Labotarium Orfield di Amerika mampu menyerap 99,99% suara. Para sukarelawan mulai berhalusinasi setelah beberapa saat berada didalam ruangan tersebut. Durasi terlama yang pernah dicapai seseorang untuk berdiam di dalam kamar tersebut adalah 45 menit saja.



Mampu menyerap suara terluar secara efektif dan memegang Rekor Dunia Guinness Book sebagai kamar tersunyi di dunia. Masuk, duduk dan tunggulah beberapa saat maka anda akan mulai berhalusinasi.

Ruangan ini benar-benar sunyi senyap secara total, sehingga setelah beberapa saat telinga Anda akan beradaptasi. Semakin sunyi ruangan tempat Anda berada maka akan semakin jelas Anda mendengar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah Anda dengar seperti suara detak jantung, suara paru-paru dan bahkan gemuruh lambung kita akan terdengar sangat jelas sekali.

Di dalam ruangan ini Anda lah yang menjadi sumber suara, karena sumber suara yang berasal dari luar tubuh tidak akan terdengar sama sekali. Biasa digunakan oleh perusahaan multinasional untuk mengetes seberapa berisik produk-produk mereka sebelum diperjualbelikan secara bebas. Biayanya 65 Euro perjam untuk swasta dan 45 Euro perjam untuk keperluan pendidikan.













Unik, Ternyata Berang-berang Punya "Kentut" Beraroma Vanila

Manusia mengeluarkan gas buang berupa kentut yang berbau tak sedap. Namun, berang-berang justru mengeluarkan aroma menarik dari pantatnya karena mensekresikan castoreum.



"Saya mengangkat ekornya, lalu mendekatkan hidung saya ke pantatnya," kata Joanne Crawford, pakar ekologi satwa liar di Douthern Illinois University.

"Orang berpikir saya gila. Saya katakan kepada mereka, ini berang-berang, bau (pantatnya) enak," ungkap Crawford seperti dikutip National Geographic.

Castoreum adalah senyawa yang kebanyakan berasal dari kantung castor berang-berang, terletak di antara pelvis dan pangkal ekor.

Karena letaknya yang berdekatan dengan kelenjar anus, castoreum kadang merupakan kombinasi antara sekresi kelenjar castor, kelenjar anal, dan urine.

Castroreum merupakan hasil diet unik berang-berang yang berupa daun dan kulit kayu. Bau castoreum menyerupai vanila.

Oleh karena baunya yang menarik, castoreum dimanfaatkan sebagai bahan aditif untuk aroma. Food and Drugs Administration (FDA) di AS menyatakan bahwa castoreum merupakan bahan aditif yang aman.

Penggunaan castoreum untuk aroma sudah berlangsung sejak 80 tahun lalu. Senyawa itu dipakai untuk parfum dan makanan.

Dengan adanya hal ini, boleh jadi aroma pada makanan kita berasal dari castoreum yang dihasilkan berang-berang.

Sayangnya, ada atau tidaknya aditif berupa castoreum dari berang-berang tak mudah diketahui. Berdasarkan ketentuan FDA, castoreum bisa dicantumkan sebagai "penambah aroma natural" saja.

Prasinohaema, Kadal Berdarah Hijau yang Penuh Misteri

Kalau ada kadal yang pantas disebut paling aneh, mungkin kadal itu adalah Prasinohaema yang ditemukan di Papua New Guinea. Berbeda dari kadal atau makhluk hidup lainnya, kadal ini punya darah berwarna hijau. Karakteristik kadal ini pertama kali dipublikasikan di jurnal Science pada tahun 1969.



Christopher Austin, biolog dari Lousiana State University, tertarik untuk mempelajari spesies kadal tersebut. Ia menjadikan riset tentang kadal itu sebagai riset doktoralnya di University of Texas.

Diberitakan National Geopgraphic, Austin menemukan bahwa darah kadal spesies tersebut kaya akan senyawa biliverdin, salah satu molekul hasil pemecahan hemoglobin selain bilirubin.

Pada manusia, biliverdin dikeluarkan dari dalam tubuh lewat saluran pencernaan. Namun, pada kadal ini, biliverdin diakumulasi di dalam darah. Senyawa inilah yang menyebabkan darah, dan bahkan jaringan, tulang, dan lidah kadal ini punya warna hijau.

Meski penyebab warna hijau sudah terungkap, bukan berarti seluruh misteri kadal ini terungkap. Jika manusia mengakumulasi biliverdin, seperti orang yang mengalami gagal hati, maka akan terjadi jaundice atau bahkan kematian. Namun, kadal ini sehat-sehat saja.

Austin menduga bahwa akumulasi biliverdin dalam darah memang merupakan bentuk adaptasi agar Prasinohaema tahan dari serangan plasmodium yang menyebabkan malaria. Namun, hal itu belum bisa dipastikan.

Kini, Austin melakukan pekerjaan baru dengan mengurai genom kadal ini serta membandingkannya dengan kadal lain yang berdarah merah untuk melihat perubahan genetik yang mungkin menjawab pertanyaan tentang toleransi pada biliverdin dan resistensi dari plasmodium.

TOP 7

More on this category »

Subscribe

Donec sed odio dui. Duis mollis, est non commodo luctus, nisi erat porttitor ligula, eget lacinia odio. Duis mollis

© 2013 Jadi Pandai. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks