Minggu, 06 Oktober 2013
Dari fosil baru yang digali di Gurun Sahara, Afrika,
terungkap bahwa lokasi itu dulunya adalah rawa-rawa tempat hidup
sekitar setengah lusin spesies buaya yang tidak biasa, bahkan mungkin
cerdas. Demikian dilaporkan sejumlah peneliti, belum lama ini, setelah
mempelajari rahang, gigi dan beberapa tulang buaya itu.

Seperti
dilansir Reuters, para peneliti telah memberikan beberapa nama-nama
baru yang cukup aneh untuk buaya-buaya tersebut. Di antaranya BoarCroc,
RatCroc, DogCroc, DuckCroc dan PancakeCroc. Kendati demikian, mereka
mengatakan temuan itu membantu membangun pemahaman tentang cara spesies
buaya itu membentuk dan menjaga kehidupannya.
mereka
hidup pada periode cretaceous, 145 hingga 65 juta tahun yang lalu.
ketika itu, benua-benua yang ada di dunia ini jaraknya masih berdekatan.
selain itu, bumi masih lebih hangat dan basah dibandingkan sekarang.
Seorang
paleontologi dari Universitas McGill, Montreal, Quebec, Kanada, Hans
Larsson mengatakan, “Masing-masing buaya itu memiliki makanan dan
perilaku yang berbeda. Tampaknya mereka telah membagi-bagi ekosistem,
tiap spesies menyesuaikan diri terhadap ekosistem tersebut dengan
caranya sendiri.”
Menurut
dia, spesies DogCroc dan DuckCroc yang mewakili spesies sebelumnya,
Anatosuchus minor, memiliki otak yang tampak berbeda dengan buaya
modern. Mereka mungkin memiliki otak yang fungsinya sedikit lebih
canggih lantaran aktif berburu di darat. Sebab dengan begitu, biasanya
buaya membutuhkan lebih banyak kekuatan otak dari pada hanya menunggu
mangsanya muncul.
RatCroc adalah spesies baru bernama resmi Araripesuchus rattoides. Jenis ini ditemukan di Maroko, Afrika,
yang menggunakan rahang bawahnya untuk mengunyah makanan. Lalu ada juga
PancakeCroc yang dikenal dengan nama ilmiah Laganosuchus thaumastos.
Buaya ini memiliki tubuh sepanjang 20 kaki dan kepala datar. BoarCroc
juga memiliki panjang 20 kaki. Namun buaya yang satu ini lebih ganas
lantaran memiliki tiga pasang gigi berbentuk pisau, berlari tegak, serta memiliki rahang yang didesain untuk menyeruduk.
Beberapa
buaya berjalan tegak dengan kaki berada di bawah tubuhnya seperti
mamalia biasa. Berbeda dengan buaya pada umumnya bila berjalan kakinya
berada di samping tubuh dengan posisi perut menyentuh tanah.
“Sifat
amfibi mereka di masa lalu mungkin dapat menjadi kunci pemahaman
mengenai cara mereka berkembang, bahkan bertahan hidup di era
dinosaurus,” tulis paleontologi lainnya dari Universitas Chicago,
Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Paul Sereno, dalam sebuah artikel terpisah untuk National Geographic.
Kaum yang meyakini adanya bigfoot mengklaim telah menemukan bukti ilmiah dari makhluk tersebut.
Studi DNA selama lima tahun dalam Sasquatch Genome Project bersama
rangkaian foto dan video menunjukkan bahwa bigfoot yang jejaknya pernah
diklaim ditemukan di Sumatera memang benar-benar ada.

Anggota tim peneliti mengungkap hasil penelitian terbaru dalam pertemuan di Dallas. Mereka mengatakan, bigfoot adalah kerabat manusia yang eksis 15.000 tahun lalu.
"Kami ingin orang memahami bahwa ini serius. Orang telah memilih untuk tidak memercayainya. Mereka tidak dapat menyadari bahwa makhluk ini memang benar-benar ada," kata Melba Ketchum, pakar genetika yang memimpin riset, seperti dikutip IBTimes.
Studi selama lima tahun itu dibiayai oleh seorang pebisnis bernama Adrian Erickson. Biaya yang dihabiskan 500.000 dollar AS. Ketchum dan timnya berhasil mengurai genom sampel yang diyakini bigfoot dan mengungkap bahwa makhluk itu adalah hibrid manusia.
"Studi kami telah mengurai 20 genom mitokondria secara keseluruhan dan menggunakan teknologi penguraian lanjut untuk mendapatkan 3 genom inti dari sampel yang diyakini bigfoot," demikian pernyataan peneliti.
"Penguraian genom menunjukkan bahwa DNA mitokondria Sasquatch identik dengan Homo sapiens. Namun DNA inti Sasquatch berbeda, terkait manusia Homo sapiens dan primata lain," lanjut peneliti dalam rilisnya.
Tim peneliti menggunakan 111 spesimen yang didapatkan dari rambut, darah, kulit, dan jaringan lain dari sampel yang diduga bigfoot.
Ketchum adalah seorang profesor veteriner. Ia awalnya skeptis tentang bigfoot. Namun, dalam penelitian, ia menjumpai fakta bahwa bigfoot memang berbeda.
"Makhluk ini tak mengikuti aturan umum. Sangat berbeda. Kami berpikir dia hibrid manusia. Itu teori kita," katanya.
Menurut Ketchum, pemerintah harus mengakui bigfoot seperti sekelompok masyarakat adat, melindunginya dari pihak-pihak yang mengancam, menjebak atau ingin membunuhnya.
Banyak kasus di dunia ini yang belum terungkap oleh para penyidik. Salah
satu kasus yang masih menjadi misteri adalah "Somerton Man".
Pada 1 Desember 1948, sesosok mayat pria ditemukan di pantai Somerton,
Adelaide, Australia. Polisi mengindikasi kemungkinan berumur 40-an.
Kondisi mayat sangat lengkap, tak ada tanda-tanda kekerasan fisik, bukti
pembunuhan, atau kemungkinan penyakit.
Namun, ditemukan beberapa keanehan. Tak ditemukan label (merk) pakaian,
celana, sepatu. Pokoknya sangat polos. Catatan gigi juga tak ada
kecocokan dengan data penduduk. Jadi pria ini tak diketahui
identitasnya.
Satu keanehan yang menambah daftar misteri yakni, ditemukan kertas di
dalam kantong rahasia celana pria tersebut berbunyi "Tamam Shud".
Kalimat berupa kode ini hanya bisa ditemukan pada bagian belakang buku The Rubaiyat of Omar Khayyam yang sudah sangat jarang.
Polisi pun memanggil pemecah kode profesional. Namun tak ada yang bisa
mengurai artinya. Hingga saat ini kasus ini masih terbuka bagi kesatuan
kriminal kepolisian Australia Selatan. Setelah 65 tahun, penyidik tetap
mencari sebab kematian The Somerton Man.
Jika kita melihat pakaian para astronot saat mereka sedang menaiki
pesawat ulang alik baik itu Atlantis, Challanger, Discovery dan
sebagainya, maka kita akan melihat mereka memakai pakaian (space suits)
berwarna oranye / orange dan mereka akan memakai baju yang berbeda lagi
(berwarna putih) jika akan melakukan spacewalk di luar angkasa.
Nah mengapa para kru tersebut menggunakan pakaian berwarna oranye saat
berada di pesawat ulang alik dan berwarna putih saat melakukan
spacewalk?

Menurut NASA pemilihan warna itu bukanlah tanpa alasan. Warna oranye cerah dipilih karena warna itu mudah untuk terlihat dan kontras dengan latar belakangnya. Terlebih jika mereka sedang berada di space shuttle (pesawat ulang alik).
Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan baik pada saat pesawat itu terbang atau mendarat, maka proses pencarian dan penyelamatan akan menjadi lebih mudah.
"Ini sangat terlihat untuk pencarian dan penyelamatan. Dan ini salah satu warna yang paling terlihat terutama untuk penyelamatan di laut," ungkap Brian Daniel dari NASA. Pakaian itu disebut dengan Advanced Crew Escape Suit (ACES) yang dilengkapi oksigen, air, parasut, radio, obat-obatan, pemancar, dan sebagainya
Nah terus kenapa pakaian astronot ada yang warnanya putih?
Warna putih ini dipilih karena dapat memantulkan panas dari Matahari dan warna itu kontras dengan warna hitam luar angkasa di belakangnya. Pakaian putih astronot dikenal dengan nama Extravehicular Mobility Units (EMUs).
Pada pakaian itu terdapat beberapa perlengkapan seperti sistem komunikasi, pengatur temperatur, persediaan oksigen dan air minum, kantung peralatan, dan sebagaianya.
Pakaian tersebut dapat melindungi astronot dari terpaan meteorit mikro (micrometeoroids), radiasi luar angkasa, dan tekanan rendah diluar angkasa yang membahayakan. Selain itu pakaian astronot juga dilengkapi dengan saluran pembuangan karbon dioksida, sebab karbondioksida dengan kadar tertentu bisa sangat membahayakan jiwa astronot itu sendiri.
Kedua pakaian yang sudah disebutkan di atas baik yang berwarna oranye ataupun putih, keduanya dilengkapi dengan helm yang terbuat dari polikarbonat, sebuah bahan yang sangat kuat yang biasa digunakan dalam pembuatan kaca antipeluru. Helm itu dilengkapi dengan kamera, lampu penerangan serta lapisan pelindung sinar ultraviolet (UV) dan radiasi inframerah.
Karena bobotnya yang berat, maka untuk mempercepat dan mempermudah astronot dalam mobilisasi, NASA membuat semacam roket mini dengan tenaga gas yang sekilas mirip kursi pelontar yang dikenal dengan sebuatan Manned Maneuvering Unit (MMU).
Roket itu dikendalikan dengan menggunakan joystick. Selain itu ada juga roket ransel yang berbahan gas nitrogen yang disebut Simplified Aid for Extravehicular Activity Rescue (SAFER) tapi biasanya ini digunakan untuk keadaan darurat saja. Roket ini bisa bergerak dengan kecepatan tiga meter per detik.
